Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Pilot Fokker F-27 Pemain Golf

Pilot Fokker F-27 Pemain Golf

Pilot Fokker 27, Mayor Penerbang Heri Setiawan, 36 tahun, dikenal sebagai sosok yang ramah oleh tetangga disekitarnya. Pramita Arifianti, tetangga depan rumah korban, tidak menyangka bahwa peristiwa naas tersebut akan terjadi."Kaget denger berita di televisi, “ ujarnya kepada Tempo Kamis 21 Juni 2012. baca juga (Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27)

Saking baiknya kepribadian Heri, menurut Mita, baru-baru ini ia menabrak mobil almarhum, namun Heri sama sekali tidak marah. “Dia bilang oh tidak usah diganti ngapain repot-repot,” ucap Mita menirukan omongan Heri. “Ia juga tipe orang yang rajin menyapa. Suka kasih oleh-oleh kalau habis terbang.”

Hoby Heri kata Mita adalah bermain Golf. “Akhir-akhir sering liat ia bermain golf kalau weekend,” ujarnya. Selain bermain Golf, Mita juga menuturkan sering melihat Heri menyuci mobil di malam Hari.

Sepengetahuan Mita Heri sudah matang di dunia penerbangan. “Mungkin sejak tahun 2000 sudah aktif menerbangkan,” ujarnya. “Tahun lalu juga baru selesai SIP (sekolah intsruktur penerbangan) di Jogja.” baca juga (Lettu Paulus, Penumpang Fokker 27 Yang Masuk ICU)

Heri pergi meninggalkan satu orang istri dan dua orang anak, lelaki dan perempuan. “Galih dan Amanda , umur mereka mungkin masih dibawah 8 tahun,” ujarnya.

Situasi di kediaman Heri Jalan Sambu No 4 Komplek Dwikora Halim Perdana Kusuma masih sepi. Tenda, kursi dan bendera kuning sudah disiapkan didepan rumahnya. Namun hingga pukul 19.00, baru sekitar 10 orang terlihat.

Sebuah pesawat Fokker 27 milik TNI AU siang tadi dilaporkan terjatuh di kompleks Halim Perdanakusuma sekitar pukul 14.35 dan menimpa rumah penduduk. Meskipun begitu, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI AU perihal jatuhnya pesawat tersebut. Hingga saat ini korban tewas diperkirakan berjumlah sembilan orang terdiri dari anggota TNI Angkatan Udara. baca juga (Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker)

Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pesawat Fokker dirancang oleh Anthony Fokker, seorang warga negara Belanda. Bernama lengkap Anton Herman Gerard Fokker, ia lahir pada 6 April 1890. Tanah kelahirannya adalah Blitar, Jawa Timur. Waktu itu Blitar masih masuk dalam wilayah Karesidenan Kediri. 

Anthony Fokker adalah anak kedua dari pasangan pemilik kebun kopi, Herman Fokker dan Johanna Hugonia Wouterina Wilhelmina Diemont. Waktu umurnya menginjak 4 tahun, keluarga Fokker pindah ke Belanda dan tinggal di Haarlem. baca juga (Pilot Fokker F-27 Pemain Golf)

Fokker mulai tertarik pada pesawat ketika menonton pameran penerbangan Wilbur Wright di Prancis pada1908. Di usia 20 tahun, 1910, Herman Fokker mengirim anaknya ke Jerman untuk mengambil pendidikan mesin mobil di Sekolah Teknik Bingen. Karena Fokker muda lebih tertarik dengan kapal terbang, dia pun pindah sekolah ke Erste deutsche Automobil-Fachschule di Mainz, Jerman. Pada Desember 1910, dia membangun pesawat pertamanya yang bernama de Spin atau the Spider atau si Laba-laba.

Tapi si Laba-laba tak berumur panjang. Di akhir Desember 1910, pesawat itu hancur waktu diterbangkan rekan bisnisnya yang menabrak pohon. Kala membangun pesawat kedua, Fokker mendapat izin pilot. Dengan begitu dia bisa mengendarai pesawatnya sendiri. Tapi Spin II juga hancur karena jatuh pada Mei 1911. baca juga (Lettu Paulus, Penumpang Fokker 27 Yang Masuk ICU)

Fokker kemudian menjadi terkenal. Di negaranya, Belanda, Anthony Fokker menjadi pesohor setelah terbang mengelilingi menara Sint-Bavokerk di Haarlem, 31 Agustus 1911. Waktu itu dia memiloti Spin versi ketiganya. Bahkan Spin III ini dibeli Jerman pada 1913.

Lelaki ini semakin terkenal kala ia menerbangkan pesawatnya di perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Pada 1912, Fokker pindah ke Johannisthal, dekat Berlin, dan mendirikan perusahaannya sendiri: Fokker Aeroplanbau. Sejak itu dia menciptakan pelbagai jenis pesawat.

Sepanjang Perang Dunia I, Pemerintah Jerman mengambil alih pabrik Fokker. Sejak itu, Anthony Fokker mulai merancang kapal perang untuk Angkatan Udara Jerman. Hasilnya ada 700 pesawat yang dibuat khusus untuk Perang Dunia I. Selain membuat pesawat, Fokker juga ahli menerbangkan pesawat. Karena itu dia kerap melakukan demonstrasi terbang.

Usai Perang Dunia I, Anthony Fokker pulang kampung. Di Belanda, dia mulai membangun perusahaan penerbangannya: Dutch Aircraft Factory, pendahulu Fokker Aircraft Company. Saat itu Jerman-Belanda tengah melakukan pelucutan senjata besar-besaran. Tapi Fokker tidak pulang ke rumah dengan tangan kosong. Dia berhasil memboyong suku cadang pesawat militer D.VII dan C.I. Hasilnya dia bisa membangun pesawat baru untuk masyarakat sipil. baca juga (Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27)

Pada 25 Maret 1919, Fokker menikah dengan Sophie Marie Elisabeth von Morgen di Haarlem. Tapi perkawinan itu cuma bertahan empat tahun saja. Di 1922, Fokker memutuskan hijrah ke Amerika Serikat dan mendirikan Fokker Aircraft Corporation. Dia juga mengubah kewarganegaraan menjadi penduduk Amerika dan menikahi Violet Austman pada 1927. Tinggal di Amerika selama sembilan tahun, Fokker meninggal di usia 49 tahun. Dia tewas akibat penyakit pneumococcal meningitis pada 1939.

Berikut Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker yang Lahir di Blitar :

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar


Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pilot Fokker F-27 Pemain Golf

Pilot Fokker F-27 Pemain Golf

Pilot Fokker 27, Mayor Penerbang Heri Setiawan, 36 tahun, dikenal sebagai sosok yang ramah oleh tetangga disekitarnya. Pramita Arifianti, tetangga depan rumah korban, tidak menyangka bahwa peristiwa naas tersebut akan terjadi."Kaget denger berita di televisi, “ ujarnya kepada Tempo Kamis 21 Juni 2012. baca juga (Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27)

Saking baiknya kepribadian Heri, menurut Mita, baru-baru ini ia menabrak mobil almarhum, namun Heri sama sekali tidak marah. “Dia bilang oh tidak usah diganti ngapain repot-repot,” ucap Mita menirukan omongan Heri. “Ia juga tipe orang yang rajin menyapa. Suka kasih oleh-oleh kalau habis terbang.”

Hoby Heri kata Mita adalah bermain Golf. “Akhir-akhir sering liat ia bermain golf kalau weekend,” ujarnya. Selain bermain Golf, Mita juga menuturkan sering melihat Heri menyuci mobil di malam Hari.

Sepengetahuan Mita Heri sudah matang di dunia penerbangan. “Mungkin sejak tahun 2000 sudah aktif menerbangkan,” ujarnya. “Tahun lalu juga baru selesai SIP (sekolah intsruktur penerbangan) di Jogja.” baca juga (Lettu Paulus, Penumpang Fokker 27 Yang Masuk ICU)

Heri pergi meninggalkan satu orang istri dan dua orang anak, lelaki dan perempuan. “Galih dan Amanda , umur mereka mungkin masih dibawah 8 tahun,” ujarnya.

Situasi di kediaman Heri Jalan Sambu No 4 Komplek Dwikora Halim Perdana Kusuma masih sepi. Tenda, kursi dan bendera kuning sudah disiapkan didepan rumahnya. Namun hingga pukul 19.00, baru sekitar 10 orang terlihat.

Sebuah pesawat Fokker 27 milik TNI AU siang tadi dilaporkan terjatuh di kompleks Halim Perdanakusuma sekitar pukul 14.35 dan menimpa rumah penduduk. Meskipun begitu, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI AU perihal jatuhnya pesawat tersebut. Hingga saat ini korban tewas diperkirakan berjumlah sembilan orang terdiri dari anggota TNI Angkatan Udara. baca juga (Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker)

Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pesawat Fokker dirancang oleh Anthony Fokker, seorang warga negara Belanda. Bernama lengkap Anton Herman Gerard Fokker, ia lahir pada 6 April 1890. Tanah kelahirannya adalah Blitar, Jawa Timur. Waktu itu Blitar masih masuk dalam wilayah Karesidenan Kediri. 

Anthony Fokker adalah anak kedua dari pasangan pemilik kebun kopi, Herman Fokker dan Johanna Hugonia Wouterina Wilhelmina Diemont. Waktu umurnya menginjak 4 tahun, keluarga Fokker pindah ke Belanda dan tinggal di Haarlem. baca juga (Pilot Fokker F-27 Pemain Golf)

Fokker mulai tertarik pada pesawat ketika menonton pameran penerbangan Wilbur Wright di Prancis pada1908. Di usia 20 tahun, 1910, Herman Fokker mengirim anaknya ke Jerman untuk mengambil pendidikan mesin mobil di Sekolah Teknik Bingen. Karena Fokker muda lebih tertarik dengan kapal terbang, dia pun pindah sekolah ke Erste deutsche Automobil-Fachschule di Mainz, Jerman. Pada Desember 1910, dia membangun pesawat pertamanya yang bernama de Spin atau the Spider atau si Laba-laba.

Tapi si Laba-laba tak berumur panjang. Di akhir Desember 1910, pesawat itu hancur waktu diterbangkan rekan bisnisnya yang menabrak pohon. Kala membangun pesawat kedua, Fokker mendapat izin pilot. Dengan begitu dia bisa mengendarai pesawatnya sendiri. Tapi Spin II juga hancur karena jatuh pada Mei 1911. baca juga (Lettu Paulus, Penumpang Fokker 27 Yang Masuk ICU)

Fokker kemudian menjadi terkenal. Di negaranya, Belanda, Anthony Fokker menjadi pesohor setelah terbang mengelilingi menara Sint-Bavokerk di Haarlem, 31 Agustus 1911. Waktu itu dia memiloti Spin versi ketiganya. Bahkan Spin III ini dibeli Jerman pada 1913.

Lelaki ini semakin terkenal kala ia menerbangkan pesawatnya di perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Pada 1912, Fokker pindah ke Johannisthal, dekat Berlin, dan mendirikan perusahaannya sendiri: Fokker Aeroplanbau. Sejak itu dia menciptakan pelbagai jenis pesawat.

Sepanjang Perang Dunia I, Pemerintah Jerman mengambil alih pabrik Fokker. Sejak itu, Anthony Fokker mulai merancang kapal perang untuk Angkatan Udara Jerman. Hasilnya ada 700 pesawat yang dibuat khusus untuk Perang Dunia I. Selain membuat pesawat, Fokker juga ahli menerbangkan pesawat. Karena itu dia kerap melakukan demonstrasi terbang.

Usai Perang Dunia I, Anthony Fokker pulang kampung. Di Belanda, dia mulai membangun perusahaan penerbangannya: Dutch Aircraft Factory, pendahulu Fokker Aircraft Company. Saat itu Jerman-Belanda tengah melakukan pelucutan senjata besar-besaran. Tapi Fokker tidak pulang ke rumah dengan tangan kosong. Dia berhasil memboyong suku cadang pesawat militer D.VII dan C.I. Hasilnya dia bisa membangun pesawat baru untuk masyarakat sipil. baca juga (Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27)

Pada 25 Maret 1919, Fokker menikah dengan Sophie Marie Elisabeth von Morgen di Haarlem. Tapi perkawinan itu cuma bertahan empat tahun saja. Di 1922, Fokker memutuskan hijrah ke Amerika Serikat dan mendirikan Fokker Aircraft Corporation. Dia juga mengubah kewarganegaraan menjadi penduduk Amerika dan menikahi Violet Austman pada 1927. Tinggal di Amerika selama sembilan tahun, Fokker meninggal di usia 49 tahun. Dia tewas akibat penyakit pneumococcal meningitis pada 1939.

Berikut Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker yang Lahir di Blitar :

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar


Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker Lahir di Blitar

Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

 Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

Pesawat Fokker F-27 memiliki sejarah pengabdian yang panjang bersama TNI Angkatan Udara. “Setidaknya sudah selama 35 tahun,” kata Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya Dede Rusamsi Kamis 21 Juni 2012. Fokker 27 mulai masuk kekuatan Skuadron II penerbang pada 9 Februari 1977 untuk meneruskan kejayaan TNI AU yang pernah menjadi kekuatan paling disegani di Asia Tenggara. 

 Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

Dari beberapa sumber diketahui TNI AU mengalami penurunan kemampuan pada awal 1970-an. Pada masa jayanya, TNI AU memiliki alat utama sistem persenjataan (alutsista) udara yang besar dan andal. Kekuatan tersebut cukup menjadi deterrent power bagi negara-negara yang berniat memusuhi Indonesia. Pada era itu, TNI AU juga ikut secara aktif dalam berbagai tugas negara, seperti melaksanakan Operasi Trikora di Irian Barat. baca juga (Lettu Paulus, Penumpang Fokker 27 Yang Masuk ICU)

Baru pada pertengahan 1970-an, TNI AU bangkit kembali secara bertahap. Masuknya beberapa alutsista, seperti pesawat OV-10 Bronco, F-86 Sabre, T-33 Bird, helikopter Puma SA-330, dan Fokker 27, menjadi angin segar setelah beberapa alutsista produk negara Timur mengalami kesulitan dalam spare part-nya.

 Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

Fokker 27 besutan perusahan Fokker di Belanda menjadi ujung tombak Skuadron Udara II yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma. Delapan pesawat datang bertahap pada 1976-1977.

Beberapa operasi penting pernah diikuti Fokker 27, misalnya membantu transportasi udara saat awak kabin Garuda mogok terbang pada Januari 1980. Juga saat operasi penyelamatan ketika terjadi insiden tenggelamnya KM Tampomas II di Masalembo pada Januari 1981. baca juga (Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker)

Namun kebanyakan tugas pesawat ini sebenarnya untuk latihan. Selain itu, “Untuk mengangkut jarak dekat di wilayah pedalaman,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Hartind Asrin.

 Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

Dari situs TNI AU juga banyak tergambar bagaimana pesawat ini digunakan untuk latihan, baik hanya untuk TNI AU sendiri maupun yang gabungan dengan militer negara lain.

Selama dioperasikan Pertamina, F-27 digunakan sebagai pesawat transpor. Mereka membawa penumpang kebanyakan ke Medan, Palembang, dan Sorong. Bahkan, ketika Pengumpulan Pendapat Rakyat di Irian Barat pada 1969, Pertamina juga mengirim F-27, bersama satu DC-3 Dakota.baca juga (Pilot Fokker F-27 Pemain Golf)

Lettu Paulus, Penumpang Fokker 27 Yang Masuk ICU

Lettu Paulus, Penumpang Fokker 27 Yang Masuk ICU

Letnan Satu Paulus, salah satu dari tujuh penumpang Fokker-27 milik TNI AU, meninggal dunia setelah sebelumnya berada dalam perawatan di Intensive Care Unit (ICU) RS Esnawan Antariksa.

"Paulus akhirnya meninggal, sehingga seluruh penumpang pesawat Fokker TNI AU A2708 tewas," ujar Kepala Sub Dinas Penerangan Umum TNI AU Kolonel Penerbang Agung Sasongko Jati, Kamis, 21 Juni 2012. baca juga (Pilot Fokker F-27 Pemain Golf)

Pesawat nahas itu tengah berada dalam pelatihan touch and go. "Ini adalah latihan mendasar bagi penerbang," ujarnya. “Prosedurtouch and go adalah latihan take off danlanding secara berulang-ulang. Latihannya hanya di area Halim saja."

Pesawat tersebut diduga hendak mendarat di areal persawahan dekat dengan Kompleks Rajawali. "Pesawat itu jatuh menimpa sebuah rumah milik Mayor Yohanes," ujarnya. baca juga (Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker)

Sebanyak empat orang penghuni rumah tersebut turut menjadi korban. "Dua anak kecil dan seorang pembantu," kata dia. Dua anak kecil yang tewas adalah Brian, 6 tahun, anak Mayor Yohanes, dan Naflin, 2 tahun, keponakannya. "Sedangkan Martina, istri Mayor Yohanes dinyatakan kritis," ujarnya.

Pesawat Fokker 27 milik TNI AU itu jatuh di Kompleks Rajawali, Halim Perdanakusuma, Kamis sekitar pukul 14.25 WIB. baca juga (Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27)

Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

 Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

Pesawat Fokker F-27 memiliki sejarah pengabdian yang panjang bersama TNI Angkatan Udara. “Setidaknya sudah selama 35 tahun,” kata Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya Dede Rusamsi Kamis 21 Juni 2012. Fokker 27 mulai masuk kekuatan Skuadron II penerbang pada 9 Februari 1977 untuk meneruskan kejayaan TNI AU yang pernah menjadi kekuatan paling disegani di Asia Tenggara. 

 Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

Dari beberapa sumber diketahui TNI AU mengalami penurunan kemampuan pada awal 1970-an. Pada masa jayanya, TNI AU memiliki alat utama sistem persenjataan (alutsista) udara yang besar dan andal. Kekuatan tersebut cukup menjadi deterrent power bagi negara-negara yang berniat memusuhi Indonesia. Pada era itu, TNI AU juga ikut secara aktif dalam berbagai tugas negara, seperti melaksanakan Operasi Trikora di Irian Barat. baca juga (Lettu Paulus, Penumpang Fokker 27 Yang Masuk ICU)

Baru pada pertengahan 1970-an, TNI AU bangkit kembali secara bertahap. Masuknya beberapa alutsista, seperti pesawat OV-10 Bronco, F-86 Sabre, T-33 Bird, helikopter Puma SA-330, dan Fokker 27, menjadi angin segar setelah beberapa alutsista produk negara Timur mengalami kesulitan dalam spare part-nya.

 Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

Fokker 27 besutan perusahan Fokker di Belanda menjadi ujung tombak Skuadron Udara II yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma. Delapan pesawat datang bertahap pada 1976-1977.

Beberapa operasi penting pernah diikuti Fokker 27, misalnya membantu transportasi udara saat awak kabin Garuda mogok terbang pada Januari 1980. Juga saat operasi penyelamatan ketika terjadi insiden tenggelamnya KM Tampomas II di Masalembo pada Januari 1981. baca juga (Foto Pencipta Fokker 27 Anthony Fokker)

Namun kebanyakan tugas pesawat ini sebenarnya untuk latihan. Selain itu, “Untuk mengangkut jarak dekat di wilayah pedalaman,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Hartind Asrin.

 Kisah Pilu Pengabdian 30 Tahun Fokker 27

Dari situs TNI AU juga banyak tergambar bagaimana pesawat ini digunakan untuk latihan, baik hanya untuk TNI AU sendiri maupun yang gabungan dengan militer negara lain.

Selama dioperasikan Pertamina, F-27 digunakan sebagai pesawat transpor. Mereka membawa penumpang kebanyakan ke Medan, Palembang, dan Sorong. Bahkan, ketika Pengumpulan Pendapat Rakyat di Irian Barat pada 1969, Pertamina juga mengirim F-27, bersama satu DC-3 Dakota.baca juga (Pilot Fokker F-27 Pemain Golf)

Rabu, 20 Juni 2012

Tips Menghindari Jebakan Narkoba Oknum Polisi


Tips Menghindari Jebakan Narkoba Oknum Polisi

Lagi-lagi muncul cerita jebakan narkoba yang dilakukan oknum polisi, seperti yang dialami Lita Stephanie. Pihak kepolisian memastikan, bila benar apa yang dialami Lita, oknum itu tidak akan ditolerir.

Polisi juga meminta masyarakat waspada menghadapi polisi yang berbuat seperti itu. Berikut tips dari Mabes Polri agar masyarakat terhindar dari apa yang disebut sebagai jebakan narkoba :
  1. Masyarakat jangan panik, berbicara tenang, dan tanyakan identitas dan kesatuan pihak yang mengaku petugas itu.
  2. Jangan menyentuh barang, obat, atau narkoba yang dituding sebagai milik korban.
  3. Bila benar tidak memiliki narkoba, warga harus berani meminta tes urine kepada orang yang mengaku petugas itu
  4. Laporkan petugas yang menjebak itu, ke propam dan petugas sentra kepolisian terdekat.
"Segera laporkan ke markas polisi terdekat," tegas Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar kepada Caritaudiblogspot.com, Selasa (19/6/2012).

Kasus jebakan narkoba itu tengah ramai diperbincangkan di dunia maya. Adalah Sherlita Stephanie atau Lita yang melintas di kawasan Jalan Bangka sekitar pukul 01.30 WIB, Selasa (19/6). Pekerja di sebuah event organizer ini mengaku sejumlah petugas menghentikan kendaraan yang ditumpanginya bersama rekannya, Yasmin.

Entah bagaimana, dia tiba-tiba dituding memiliki obat-obatan yang disebut sebagai narkoba. Padahal dia bukan pemakai. Lita, bersama temannya baru pulang dari Kemang menuju kawasan Tebet dan melintas di daerah Bangka. Hampir 1 jam dia mengalami intimidasi, hingga akhirnya adiknya datang. Adiknya dengan terpaksa menyebut nama kenalannya di kepolisian. Hingga kemudian polisi melepaskan Lita dan Yasmin.

Senin, 18 Juni 2012

Faktor Menara Diduga Punya Peran di Tragedi Sukhoi

Faktor Menara Diduga Punya Peran di Tragedi Sukhoi

Penyebab kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menabrak Gunung Salak mulai terkuak. Pengawas udara diduga kurang memandu pilot yang tak paham medan.

Laporan utama majalah Tempo, "Musabab Jatuhnya Sukhoi", edisi Senin, 18 Juni 2012, memuat isi rekaman percakapan terakhir antara pilot Sukhoi Superjet 100, Aleksandr, dan N, petugas pengatur lalu lintas udara di Terminal East Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. (Baca juga: Pilot Sukhoi Sempat Berteriak: Ya Tuhan Apa Ini!)

“Tower 36801 good afternoon, establish Radial 200 degrees VOR ten thousand feet…(Selamat siang tower 36801, ada di ketinggian 10.000 kaki)” ucap sang pilot pada pukul 14.24. Petugas menara pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller), sebut saja bernama N menjawab, “RA36801 radar contact, maintain ten thousand proceed area. (RA36801 kontak rada, jaga ketinggian di 10.000 kaki di area itu)” Sesuai dengan prosedur, pilot Aleksandr mengulang instruksi petugas: “Maintain level 10.000 feet 36801 (jaga ketinggian di 10.000 kaki).”

Jet baru itu melaju menuju Pelabuhan Ratu sesuai dengan tujuan penerbangan. Pilot menerbangkan pesawatnya dengan status Instrument Flight Rules. Artinya, pilot mengikuti panduan alat navigasi di kokpit dan panduan petugas pengatur lalu lintas udara.

Dua menit terbang di ketinggian 10 ribu kaki, pilot menghubungi petugas: “Tower, 36801 request descend 6.000 feet. (Tower, 36801 meminta turun di 6.000 kaki).” Petugas N menjawab, “36801 say again request (36801 kembali meminta turun).” Pilot Aleksandr mengulang permintaan untuk menurunkan pesawat ke ketinggian 1.828 meter di atas permukaan laut. N segera membalas, “Ok, 6.000 copied. (Ok. 6.000 kaki diterima).” Sang pilot mengulang, “Descend to 6.000 feet 36801 (turun ke 6.000 kaki).”

Di radio, ketika jam berdetak pada pukul 14.28, pilot Aleksandr terdengar kembali meminta persetujuan. “Tower, 36801 request turn right orbit present position.” Tak menanyakan alasan pilot memutarkan pesawatnya ke kanan, N langsung setuju: “RA 36801 approve orbit to the right six thousand (RA 36801 setuju orbit ke kanan ke 6.000 kaki).” (Baca juga: Pemandu ATC di Insiden Sukhoi Belum Diizinkan Bekerja Lagi)

Permintaan memutarkan pesawat itu merupakan komunikasi terakhir pilot. Hampir lima menit setelahnya, pesawat menabrak tebing. Dari rekaman kotak hitam, menurut seorang penyelidik dari Rusia, sesaat setelah permintaan memutar disetujui, pilot menjerit.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi tak menampik ketika dimintai konfirmasi soal komunikasi pilot dan pemandunya itu. “Percakapan ini normatif, tak ada petunjuk apa pun. Kami punya yang lebih lengkap,” kata dia, Selasa pekan lalu.

Menurut Tatang, semua data komunikasi, rekaman radar, juga kotak hitam pesawat telah diserahkan kepada lembaganya. “Semua petugas juga telah dimintai keterangan.”

Seorang investigator Rusia yang mengetahui analisis sementara kotak hitam mengatakan Yablontsev berniat melakukan manuver setelah permintaan turunnya disetujui menara Cengkareng. "Dia mau terbang di celah dua puncak gunung," katanya. Salak punya tiga pucuk dengan lembah-lembahnya yang curam.

Seorang petugas di Cengkareng menyimpulkan, pemandu memiliki andil dalam kecelakaan. "Semestinya pemandu tak menyetujui permintaan pilot berbelok ke kanan karena di monitor radar sebenarnya tercantum gunung," ujarnya.

Faktor Menara Diduga Punya Peran di Tragedi Sukhoi

Faktor Menara Diduga Punya Peran di Tragedi Sukhoi

Penyebab kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menabrak Gunung Salak mulai terkuak. Pengawas udara diduga kurang memandu pilot yang tak paham medan.

Laporan utama majalah Tempo, "Musabab Jatuhnya Sukhoi", edisi Senin, 18 Juni 2012, memuat isi rekaman percakapan terakhir antara pilot Sukhoi Superjet 100, Aleksandr, dan N, petugas pengatur lalu lintas udara di Terminal East Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. (Baca juga: Pilot Sukhoi Sempat Berteriak: Ya Tuhan Apa Ini!)

“Tower 36801 good afternoon, establish Radial 200 degrees VOR ten thousand feet…(Selamat siang tower 36801, ada di ketinggian 10.000 kaki)” ucap sang pilot pada pukul 14.24. Petugas menara pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller), sebut saja bernama N menjawab, “RA36801 radar contact, maintain ten thousand proceed area. (RA36801 kontak rada, jaga ketinggian di 10.000 kaki di area itu)” Sesuai dengan prosedur, pilot Aleksandr mengulang instruksi petugas: “Maintain level 10.000 feet 36801 (jaga ketinggian di 10.000 kaki).”

Jet baru itu melaju menuju Pelabuhan Ratu sesuai dengan tujuan penerbangan. Pilot menerbangkan pesawatnya dengan status Instrument Flight Rules. Artinya, pilot mengikuti panduan alat navigasi di kokpit dan panduan petugas pengatur lalu lintas udara.

Dua menit terbang di ketinggian 10 ribu kaki, pilot menghubungi petugas: “Tower, 36801 request descend 6.000 feet. (Tower, 36801 meminta turun di 6.000 kaki).” Petugas N menjawab, “36801 say again request (36801 kembali meminta turun).” Pilot Aleksandr mengulang permintaan untuk menurunkan pesawat ke ketinggian 1.828 meter di atas permukaan laut. N segera membalas, “Ok, 6.000 copied. (Ok. 6.000 kaki diterima).” Sang pilot mengulang, “Descend to 6.000 feet 36801 (turun ke 6.000 kaki).”

Di radio, ketika jam berdetak pada pukul 14.28, pilot Aleksandr terdengar kembali meminta persetujuan. “Tower, 36801 request turn right orbit present position.” Tak menanyakan alasan pilot memutarkan pesawatnya ke kanan, N langsung setuju: “RA 36801 approve orbit to the right six thousand (RA 36801 setuju orbit ke kanan ke 6.000 kaki).” (Baca juga: Pemandu ATC di Insiden Sukhoi Belum Diizinkan Bekerja Lagi)

Permintaan memutarkan pesawat itu merupakan komunikasi terakhir pilot. Hampir lima menit setelahnya, pesawat menabrak tebing. Dari rekaman kotak hitam, menurut seorang penyelidik dari Rusia, sesaat setelah permintaan memutar disetujui, pilot menjerit.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi tak menampik ketika dimintai konfirmasi soal komunikasi pilot dan pemandunya itu. “Percakapan ini normatif, tak ada petunjuk apa pun. Kami punya yang lebih lengkap,” kata dia, Selasa pekan lalu.

Menurut Tatang, semua data komunikasi, rekaman radar, juga kotak hitam pesawat telah diserahkan kepada lembaganya. “Semua petugas juga telah dimintai keterangan.”

Seorang investigator Rusia yang mengetahui analisis sementara kotak hitam mengatakan Yablontsev berniat melakukan manuver setelah permintaan turunnya disetujui menara Cengkareng. "Dia mau terbang di celah dua puncak gunung," katanya. Salak punya tiga pucuk dengan lembah-lembahnya yang curam.

Seorang petugas di Cengkareng menyimpulkan, pemandu memiliki andil dalam kecelakaan. "Semestinya pemandu tak menyetujui permintaan pilot berbelok ke kanan karena di monitor radar sebenarnya tercantum gunung," ujarnya.

Pemandu ATC di Insiden Sukhoi Belum Bekerja Lagi

Pemandu ATC di Insiden Sukhoi Belum Bekerja Lagi

Kecelakaan pesawat Sukhoi 9 Mei 2012 lalu ternyata masih menyisakan banyak trauma. Trauma itu bukan saja dialami oleh keluarga korban meninggal, tapi juga petugas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller atau ATC) Terminal East, Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Petugas di Cengkareng--pengatur senior lalu lintas udara, yang demi keamanan namanya disingkat N, hingga kini belum diizinkan lagi memandu pesawat. Ia sempat dirawat dua hari di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang, karena depresi.

Seorang petugas di Cengkareng menyimpulkan, pemandu memiliki andil dalam kecelakaan. "Semestinya pemandu tak menyetujui permintaan pilot berbelok ke kanan karena di monitor radar sebenarnya tercantum gunung," ujarnya. (Baca juga: Pilot Sukhoi Sempat Berteriak: Ya Tuhan Apa Ini!)

Jika saja petugas menyatakan "negatif" dan memerintahkan pesawat berbelok ke kiri, pilot punya waktu dua menit untuk menghindari puncak gunung. Kesibukan N yang memandu belasan pesawat lain dalam waktu bersamaan membuatnya tak waspada. Dalam transkrip percakapan itu, ia tak terdengar mengarahkan Sukhoi atau menolak permintaan pilot.

Siang itu, N memang sibuk. Dia seorang diri melayani 13 pesawat pada waktu bersamaan. Ia merespons permintaan turun, orbit, atau naik dari 13 pilot. Menurut seorang petugas menara, N siang itu sendirian tanpa asisten. Ahmad, petugas yang sebenarnya asisten, memandu puluhan pesawat lain di Terminal West.

Kala pilot Aleksandr Yablontsev mengirim berita ke pengatur lalu lintas udara Terminal East, Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, semua tampak berjalan normal. Petugas bernama N ini menjawab, "RA-36801 radar contact, maintain ten thousand proceed area." Sesuai dengan prosedur, Yablontsev mengulang instruksi petugas: "Maintain level 10.000 feet 36801." Jet melaju menuju Pelabuhan Ratu, sesuai dengan tujuan pada rencana penerbangan.

Dua menit melaju di ketinggian 10 ribu kaki, pilot menghubungi petugas: "Tower, 36801 request descend 6.000 feet." Petugas N menjawab, "36801 say again request." Pilot Yablontsev mengulang permintaan untuk menurunkan pesawat ke 1.828 meter di atas permukaan laut. N segera membalas, "OK, 6.000 copied." Lagi sang pilot mengulang, "Descend to 6.000 feet 36801."

Mulya Abdi, General Manager Senior Air Traffic Services Soekarno-Hatta, beralasan bahwa turun ke 6.000 kaki dan berbelok ke kanan disetujui pemandu karena Sukhoi berada di training area Atang Sendjaja. "Ini daerah bersih. Pesawat minta turun ke 3.000 pun pasti disetujui," katanya.

Terbang di area latihan ada syaratnya. Menurut Heruyanto Sutiyoso, dosen senior di sejumlah sekolah penerbangan, kecepatan maksimal di wilayah ini 250 knot. "Dan pilot harus terbang secara visual, bukan instrumen," ujarnya.

Ketika menabrak tebing Salak, Sukhoi melaju 40 knot di atas batas maksimal yang diizinkan di area latihan. "Semestinya pemandu memberitahukan syarat-syarat terbang di training area," kata seorang petugas menara Cengkareng.

Pemandu ATC di Insiden Sukhoi Belum Bekerja Lagi

Pemandu ATC di Insiden Sukhoi Belum Bekerja Lagi

Kecelakaan pesawat Sukhoi 9 Mei 2012 lalu ternyata masih menyisakan banyak trauma. Trauma itu bukan saja dialami oleh keluarga korban meninggal, tapi juga petugas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller atau ATC) Terminal East, Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Petugas di Cengkareng--pengatur senior lalu lintas udara, yang demi keamanan namanya disingkat N, hingga kini belum diizinkan lagi memandu pesawat. Ia sempat dirawat dua hari di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang, karena depresi.

Seorang petugas di Cengkareng menyimpulkan, pemandu memiliki andil dalam kecelakaan. "Semestinya pemandu tak menyetujui permintaan pilot berbelok ke kanan karena di monitor radar sebenarnya tercantum gunung," ujarnya. (Baca juga: Pilot Sukhoi Sempat Berteriak: Ya Tuhan Apa Ini!)

Jika saja petugas menyatakan "negatif" dan memerintahkan pesawat berbelok ke kiri, pilot punya waktu dua menit untuk menghindari puncak gunung. Kesibukan N yang memandu belasan pesawat lain dalam waktu bersamaan membuatnya tak waspada. Dalam transkrip percakapan itu, ia tak terdengar mengarahkan Sukhoi atau menolak permintaan pilot.

Siang itu, N memang sibuk. Dia seorang diri melayani 13 pesawat pada waktu bersamaan. Ia merespons permintaan turun, orbit, atau naik dari 13 pilot. Menurut seorang petugas menara, N siang itu sendirian tanpa asisten. Ahmad, petugas yang sebenarnya asisten, memandu puluhan pesawat lain di Terminal West.

Kala pilot Aleksandr Yablontsev mengirim berita ke pengatur lalu lintas udara Terminal East, Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, semua tampak berjalan normal. Petugas bernama N ini menjawab, "RA-36801 radar contact, maintain ten thousand proceed area." Sesuai dengan prosedur, Yablontsev mengulang instruksi petugas: "Maintain level 10.000 feet 36801." Jet melaju menuju Pelabuhan Ratu, sesuai dengan tujuan pada rencana penerbangan.

Dua menit melaju di ketinggian 10 ribu kaki, pilot menghubungi petugas: "Tower, 36801 request descend 6.000 feet." Petugas N menjawab, "36801 say again request." Pilot Yablontsev mengulang permintaan untuk menurunkan pesawat ke 1.828 meter di atas permukaan laut. N segera membalas, "OK, 6.000 copied." Lagi sang pilot mengulang, "Descend to 6.000 feet 36801."

Mulya Abdi, General Manager Senior Air Traffic Services Soekarno-Hatta, beralasan bahwa turun ke 6.000 kaki dan berbelok ke kanan disetujui pemandu karena Sukhoi berada di training area Atang Sendjaja. "Ini daerah bersih. Pesawat minta turun ke 3.000 pun pasti disetujui," katanya.

Terbang di area latihan ada syaratnya. Menurut Heruyanto Sutiyoso, dosen senior di sejumlah sekolah penerbangan, kecepatan maksimal di wilayah ini 250 knot. "Dan pilot harus terbang secara visual, bukan instrumen," ujarnya.

Ketika menabrak tebing Salak, Sukhoi melaju 40 knot di atas batas maksimal yang diizinkan di area latihan. "Semestinya pemandu memberitahukan syarat-syarat terbang di training area," kata seorang petugas menara Cengkareng.

Pilot Sukhoi Sempat Berteriak : Ya Tuhan Apa Ini!

Pilot Sukhoi Sempat Berteriak: Ya Tuhan Apa Ini!

Satu per satu kepingan misteri penyebab kecelakaan pesawat Sukhori Superjet 100 mulai terkuak. Faktor pilot diduga menyumbang peran dalam kecelakaan tersebut.

Laporan utama majalah Tempo, "Musabab Jatuhnya Sukhoi" edisi Senin, 18 Juni 2012, memuat wawancara Tempo dengan seorang investigator Rusia. Dari wawancara itu terungkap pilot sempat berteriak sesaat sebelum pesawat menabrak.

Seorang investigator Rusia yang mengetahui analisis sementara kotak hitam mengatakan Yablontsev berniat melakukan manuver setelah permintaan turunnya disetujui menara Cengkareng. "Dia mau terbang di celah dua puncak gunung," katanya. Salak punya tiga pucuk dengan lembah-lembahnya yang curam.

Aleksandr Yablontsev pilot senior. Di usianya yang 57 tahun, ia sudah menerbangkan 221 jenis pesawat dengan 14 ribu jam terbang. Bekas pilot tempur ini juga terlibat membangun Sukhoi sejak 2004. Dengan pengalaman dan keahlian itu, kata investigator ini, Yablontsev diduga berniat menunjukkan kecanggihan Sukhoi kepada tamu-tamunya.

Tak paham kontur jalur ke Pelabuhan Ratu itu, sang pilot terkejut ketika membelokkan pesawat ke kanan justru mengarah ke tebing Salak. Dari rekaman kotak hitam, menurut seorang penyelidik dari Rusia, sesaat setelah permintaan memutar disetujui, pilot menjerit, “O Bozhe, chto eto takoe? (Ya, Tuhan, apa ini?)” Luka tebing akibat benturan menunjukkan Yablontsev berniat menaikkan pesawat tapi tak cukup jarak dan waktu buat menghindar.

Menurut Presiden IATCA I Gusti Ketut Susila, jarak koordinat pesawat saat kontak terakhir dengan Gunung Salak hanya 14 kilometer. Dengan kecepatan 290 knot atau 450 kilometer per jam, pilot hanya punya waktu sembilan detik menghindari tebing.

Menurut Menteri Perhubungan E.E Mangindaan, Yablontsev dan kopilot Aleksandr Kochetkov mengabaikan peringatan sistem yang berbunyi sebelas kali--tanda pesawat menuju bahaya. Tapi seorang petugas di Cengkareng menyimpulkan, pemandu memiliki andil dalam kecelakaan. "Semestinya pemandu tak menyetujui permintaan pilot berbelok ke kanan karena di monitor radar sebenarnya tercantum gunung," ujarnya.

Jika saja petugas menara menyatakan "negatif" dan memerintahkan pesawat berbelok ke kiri, pilot punya waktu dua menit untuk menghindari puncak gunung. Kesibukan N yang memandu belasan pesawat lain dalam waktu bersamaan membuatnya tak waspada. Dalam transkrip percakapan itu, ia tak terdengar mengarahkan Sukhoi atau menolak permintaan pilot. (Baca juga: Pemandu ATC di Insiden Sukhoi Belum Bekerja Lagi)

Mulya Abdi, General Manager Senior Air Traffic Services Soekarno-Hatta, beralasan bahwa turun ke 6.000 kaki dan berbelok ke kanan disetujui pemandu karena Sukhoi berada di training area Atang Sendjaja. "Ini daerah bersih. Pesawat minta turun ke 3.000 pun pasti disetujui," katanya.

Training area Atang Sendjaja adalah sebuah wilayah imajiner di Bogor yang melintang sepanjang 50 kilometer dari Tangerang hingga Cikeas, dengan lebar sekitar 20 kilometer. Letaknya 20 nautical mile atau 37 kilometer dari Pangkalan Halim. Area ini sering dijadikan tempat latihan siswa penerbang Curug, Tangerang, karena sepi dari lalu lintas pesawat.

Terbang di area latihan ada syaratnya. Menurut Heruyanto Sutiyoso, dosen senior di sejumlah sekolah penerbangan, kecepatan maksimal di wilayah ini 250 knot. "Dan pilot harus terbang secara visual, bukan instrumen," ujarnya.

Ketika menabrak tebing Salak, Sukhoi melaju 40 knot di atas batas maksimal yang diizinkan di area latihan. "Semestinya pemandu memberitahukan syarat-syarat terbang di training area," kata seorang petugas menara Cengkareng.